KH. Syaerozi - Pondok Ismailiyah Kabuyutan Rajagaluh

  • Home /
  • Artikel /
  • KH. Syaerozi - Pondok Ismailiyah Kabuyutan Rajagaluh

KH. Syaerozi - Pondok Ismailiyah Kabuyutan Rajagaluh

KH. Syaerozi / KH. Ahmad Faozi / Mama Oji

Pondok Ismailiyah Kabuyutan Rajagaluh Majalengka

img-1508631604.jpg 

KH. Syaerozi

KH. Ahmad Faozi –nama lain dari Syaerozi setelah menunaikan Haji- semasa hidupnya dikenal sebagai sosok ulama yang karismatik, memiliki karomah dan disegani pada masanya. Pendidikan KH. Syaerozi yang juga akrab dipanggil “Mama Oji” di usia dini diperoleh dari bapaknya yaitu KH. Ismail, cucu dari Tb. Muhammad Soleh (pendiri pesantren Kertabasuki Majalengka). 

Dari keterangan salah satu cucunya yaitu Kyai Muhdor-pimpinan Madrasah Al-Amin Rajagaluh-, Mama Oji pernah menimba ilmu ke beberapa ulama diantaranya kepada Kyai Ishaq pesantren Dawuan Kadipaten, kemudian dengan menempuh perjalanan jalan kaki, menimba ilmu ke KH. Tb. Ahmad Albakri (Mama Sempur) di pesantren Sempur Plered dan sempat juga berguru kepada Kyai Ahmad Syatibi (Mama Gentur) di pesantren Gentur. Menurut penuturan Bu Ijoh salah satu istri mendiang yang masih hidup, ratusan lebih santri pernah datang dan belajar kepada beliau yang memiliki sebuah pondok sederhana bernama Isma'iliyah di Kabuyutan Rajagaluh Majalengka. Beliau wafat di usia yang relatif muda yaitu 60 tahun pada tahun 1972 dengan meninggalkan 10 anak dari 2 istri (Sukaisih dan Ijoh) yaitu: Hj. Ening, H. Arifin, Hj. Anah, Satori (H. Toto), Aman Salman, Aen jahid, H. Hasan Imroni, Kyai Abdul Mu’in, M. Nashirun dan Hj. Pioh Wafiroh. Salah satu puteranya yang meneruskan pengajaran di pondok peninggalan beliau adalah Kyai Abdul Muin, namun atas kehendak Yang Maha Kuasa beliau pun meninggal dunia diusia muda. Semoga Allah terangkan kubur-kubur mereka, amiin.

Mengenai silsilah leluhur beliau, menurut penuturan salah satu santrinya sekaligus keponakan yaitu Ki Ahfaz bin Ki Elon, Mama Oji semasa hidupnya pernah menyampaikan dalam salah satu kesempatan ceramah di sebuah tajug komplek makbaroh Mbah Soleh/Tb. Muhammad Soleh (Pesantren Kertabasuki Maja) bahwa beliau adalah cucu dari Mama Soleh bin Mbah Soleh bin Tubagus Kacung Kawunggirang Maja yang berasal dari Banten.  Kyai Ahfaz yang pada masa remajanya tinggal bersama KH. Ismail –bapak dari Mama Oji- lanjut menuturkan bahwa keterangan tersebut pun juga didengarnya dari sang kakek yaitu KH. Ismail bin Mama Soleh.  Salah satu putera Mama Oji yaitu Kyai Abdul Mu’in juga menyimpan catatan silsilah Mama Oji sampai ke Maulana Hasanuddin Banten yang beliau ketahui dari bapaknya. Kendati demikian, salah satu pesan Mama Oji yang disampaikan kepada keluarga dan putera-puteranya adalah penekanan untuk menuntut ilmu agama lebih dahulu sebelum menelusuri silsilah. 

Silsilah Mama Oji dari jihat Ibu dan Bapaknya bertemu di Sultan Muhammad Arif Zainul Asyikin Banten.

Para leluhur KH. Syaerozi, dari jihat ibu:

1. Mbah Nursalim/Mbah Beo/Pangeran Suralaya bin Zainul Asyikin, salah satu anak putrinya bernama:

2. Nyai Zainab binti Nursalim, dinikahkan dengan Kyai Arjaen (Mbah Arjaen/Nurzaen), seorang mursyid toreqot Syattariyah dan penghulu Kanoman Cirebon yang berasal dari Kertabasuki Maja. Nyai Zainab masih ada ikatan kekerabatan dengan Mbah Arjaen. Salah satu anak putri dari keduanya bernama:

3. Nyai Akdam binti Arjaen, salah satu anak putrinya dari pernikahannya dengan Bapak Akdam, bernama:

4. Nyai Salamiyah, dinikahkan dengan Kyai Yahya. Salah satu anak putri dari keduanya bernama:

5. Nyai Sa'adah binti Yahya, dinikahkan dengan Kyai Abdul Mu'in dari Kertabasuki Maja yang masih ada ikatan kerabat satu sama lain. Salah satu anak putri dari keduanya bernama:

6. Nyai Aisyah/Hj. Qoyumiyah/Ema Ayum binti Abdul Mu’in, dinikahkan oleh ayahnya (Kyai Abdul Mu’in) dengan kerabat satu keturunan dari Kertabasuki yaitu Sayuthi atau KH. Ismail (nama setelah menunaikan haji). Salah satu putra dari pernikahan Nyai Aisyah dengan KH. Ismail bernama:

7. KH. Syaerozi / KH. A. Faozi / Mama Oji.

Para leluhur KH. Syaerozi, dari jihat bapak:

1. KH. Syaerozi, bin

2. KH. Ismail /Sayuthi, bin

3. Kyai Soleh/Mama Soleh, bin

4. Tb. Muhammad Shaleh, bin

5. Tubagus Kacung / Tubagus Bunyamin / Pangeran Suramanggala, bin

6. Sultan M. Arif Zainul Asikin, bin

7. Sultan Muhammad Syifa Zainul Arifin, bin

8. Sultan Abul Mahasin Zainul Abidin, bin

9. Sultan Haji Abunnasri Abdul Qohhar, bin

10. Abul Fathi Abdul Fattah / Sultan Ageng Tirtayasa, bin

11. Abdul Ma'ali Ahmad Kenari, bin

12. Abul Mafakhir Mahmud Abdul Qodir Kenari, bin

13. Maulana Muhammad Pangeran Ratu Ing Banten, bin

14. Maulana Yusuf Panembahan Pakalangan Gede, bin

15. Maulana Hasanuddin Panembahan Surosowan, bin

16. Syaikh Syarif Hidayatullah / Sunan Gunung Jati


Tubagus Kacung / Pangeran Suramanggala:

Menurut berbagai sumber, Sultan (Abul Nazar) Muhammad ‘Arif Zainul Asyikin atau Sultan Banten ke-12 periode 1753-1773, memiliki putera-putera antara lain:

1. Sultan Abul Mafakhir Muhammad Aliyudin, Sultan Banten ke-13 periode 1773-1799.

2. Sultan Muhyiddin Zainusholihin, Sultan Banten ke -14 periode 1799-1801.

3. Pangeran Manggala, hijrah ke Cirebon.

4. Pangeran Suralaya / Mbah Tubagus Nursalim / Mbah Beo, hijrah ke Rajagaluh Majalengka atas permintaan kesultanan Cirebon untuk syiar Islam di wilayah Rajagaluh.

5. Pangeran Suramanggala (Suranatpada) / Tubagus Bunyamin adalah Sultan Wakil di Banten periode 1808-1809. Kekisruhan politik dan tekanan/intervensi dari Belanda yang terjadi saat itu, mendorong Pangeran Suramanggala untuk menyingkir dari lingkungan kesultanan Banten dan melarikan diri ke Kawunggirang-Maja Majalengka. 

Menurut riwayat, Pangeran Suramanggala adalah sosok pemuda alim dan pejuang. Selain pernah menjadi Sultan Wakil, beliau pun sempat diangkat sebagai bupati di wilayah Banten Lor (Banten Utara) pada masa kekuasaan tentara Inggris (Raffles) sekitar tahun 1813. Dibawah pengejaran Belanda (yang beberapa tahun setelah itu kembali menguasai Banten dan wilayah lain di Nusantara), beliau melarikan diri dari Banten ke desa Kawunggirang-Maja Majalengka. Sesampainya di Kawunggirang, beliau menyembunyikan identitasnya / menyamar  dan berganti nama menjadi Kacung (yang dikemudian hari mashur disebut sebagai Tubagus Kacung) supaya keberadaannya tidak tercium oleh Belanda. Pada saat itu di Kawunggirang sudah ada sosok ulama dan waliyullah cicit dari Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan yang bernama Syaikh Ibrahim bin Mbah Lathif atau biasa disebut Mbah Bahim. Mbah Bahim adalah tokoh sufi dan da’i penyebar Islam di desa Kawunggirang. Perjuangan da’wah Mbah Bahim di desa Kawunggirang Maja dan sekitarnya diperkuat dengan adanya Tb. Kacung. Dari pertemuan diantara keduanya, Mbah Bahim kemudian menikahkan putrinya kepada Tb. Kacung. Dari pernikahan tersebut Tb. Kacung dianugrahi putra bernama Tubagus Muhammad Sholeh atau dikenal dengan sebutan Mbah Soleh (Sepuh) yang kemudian menjadi pendiri pesantren di Kertabasuki Maja. Para putra dan putri dari Tb. Muhammad Sholeh berdasarkan catatan silsilah dan informasi sesepuh dari keluarga diantaranya: Nyai Madani, Nyai Juhari, Nyai Angrum, Kyai Soleh (Anom), Nyai Suki, Kyai Munara, Kyai Munari, Nyai Mudrikah, Nyai Jamilah dan Nyai Idris.

Diantara keturunan dari Pangeran Suralaya (Mbah Tb. Nursalim) maupun Pangeran Suramanggala (Tb. Kacung atau Tubagus Bunyamin) terdapat banyak pernikahan saudara dalam rangka menguatkan kafa’ah.

Lokasi Makbaroh:

1. KH. Syaerozi dimakamkan di Depok Singawada Rajagaluh Majalengka, yaitu satu bangunan dengan makam Mbah Tb. Nursalim bin Sultan Zainul Asyikin.

2. KH. Ismail dimakamkan di Depok Singawada Rajagaluh Majalengka beserta makam istrinya (Hj. Aisyah/Ma Ayum), satu bangunan dengan makam Mbah Tb. Nursalim bin Sultan Zainul Asyikin.

3. Kyai Soleh dimakamkan di kampung Pesantren Kertabasuki-Majalengka (di komplek makbaroh Mbah Soleh)

4. Tubagus Muhammad Soleh (Mbah Soleh) dimakamkan di kampung Pesantren Kertabasuki-Majalengka

5. Tubagus Kacung / Pangeran Suramanggala dimakamkan di Kawunggirang Majalengka, di komplek makbaroh Mbah Bahim.

6. Sultan M. Arif Zainul Asyikin dimakamkan di komplek makam Maulana Hasanuddin Panembahan Surosowan, Kasemen - Banten Lama, Serang.

 

Silsilah Pangeran Suramanggala bin Sultan M. Arif Zainul Asyikin (Ref. Syamsu Adz-Zhohiroh hal 567):

img-1508631738.jpg



  Family Tree KH. Syaerozi bin KH. Ismail:

img-1508721259.jpg


Foto-foto Keluarga Bani Syaerozi, Rajagaluh:

img-1508632013.jpgSebagian para cucu KH. Syaerozi, di lokasi makam Tb. Nursalim & Mama Oji.

img-1508632086.jpgAreal Makam Tubagus Kacung dan Mbah Bahim, Kawunggirang

img-1508632097.jpgimg-1508632191.jpgKyai. Abdul Muin (Alm)

img-1508632377.jpgKi Ahfaz bin Ki Elon




Komentar
  • Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar