Mama Sempur - Pesantren Assalafiyyah - Sempur Keraton Plered Purwakarta

  • Home /
  • Artikel /
  • Mama Sempur - Pesantren Assalafiyyah - Sempur Keraton Plered Purwakarta

Mama Sempur - Pesantren Assalafiyyah - Sempur Keraton Plered Purwakarta

KH. Tubagus Ahmad Bakri As-Sampuri

img-1512925655.jpg

Al-'Alim al-'Allamah al-Faqih ash-Shufi asy-Syaikh Tubagus Ahmad Bakri bin Tubagus Sayida as-Sampuri al-Faleredi al-Jawi asy-Syafi'i atau Mama Sempur (lahir di Citeko, Plered, Purwakarta, Jawa Barat pada tahun 1259 Hijriyah atau 1839 Masehi) adalah salah satu sosok Ulama tanah Pasundan keturunan Kesultanan Banten.

Biografi
Syekh Tubagus Ahmad Bakri atau yang lebih dikenal dengan sebutan Mama Sempur adalah ulama dari tanah Pasundan. Mama (dibaca juga : Mama) merupakan istilah Bahasa Sunda yang berasal dari kata Rama, yang berarti Bapak. Di kalangan masyarakat Jawa Barat kata Mama biasanya disematkan kepada Ajengan atau Kiai sehingga sebutannya menjadi Mama Ajengan atau Mama Kiai. Sementara Sempur adalah sebuah Desa yang beraada di Kecamatan Plered, Purwakarta, Jawa Barat.
Mama Sempur merupakan putra pertama dari pasangan Syekh Tubagus Sayida bin Tubagus Arsyad al-Bantani & Umi. Selain Syekh Tubagus Ahmad Bakri, dari pasangan ini juga lahir Tubagus Amir dan Ibu Habib.

Silsilah
Perjalanan dari Banten ke Sempur
Syekh Tubagus Arsyad al-Bantani (kakek Mama Sempur) adalah seorang Qadi Kerajaan Banten. Namun putranya, Syekh Tubagus Sayida tampaknya tidak berminat untuk menjadi Qadi Kerajaan Banten menggantikan ayahnya, dengan berbagai pertimbangan akhirnya dia memutuskan untuk meninggalkan Banten.
Perjalanan Syekh Tubagus Arsyad dari Banten membawanya sampai ke daerah Citeko, Plered, Purwakarta, di tempat inilah Tubagus Sayida bertemu dan menikah dengan Umi hingga berputra Tubagus Ahmad Bakripada tahun 1839 Masehi.
Silsilah lengkap
Berdasarkan salah satu karya Mama Sempur yang berjudul Tanbihul Muftarin (halaman. 22), silsilah dari ayahnya sampai kepada Rasulullah melalui jalur Kesultanan Banten dari Dinasti Azmatkhan. Silsilah lengkapnya adalah sebagai berikut:

1. Syekh Tubagus Ahmad Bakri as-Sampuri bin
2. Syekh Tubagus Sayida bin
3. Syekh Tubagus Hasan Arsyad al-Bantani bin
4. Maulana Muhammad Mukhtar al-Bantani bin
5. Sultan Abu al-Fath Abdulfatah (Sultan Ageng Tirtayasa) bin
6. Sultan Abu al-Ma’ali Ahmad bin
7. Sultan Abdul Mafakhir Mahmud Abdulqadir bin
8. Sultan Maulana Muhammad Nashruddin bin
9. Sultan Maulana Yusuf bin
10. Sultan Maulana Hasanuddin bin
11. Sultan Maulana Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) bin
12. Sultan Syarif Abdullah Umdatuddin Azmatkhan bin
13. Sultan Syarif Ali Nurul Alam Azmatkhan bin
14. Jamaluddin Akbar al-Husaini bin
15. Maulana Ahmad Syah Jalaluddin bin
16. Maulana Abdullah Azmatkhan bin
17. Sultan Abdul Malik Azmatkhan bin
18. Sayyid Alwi bin
19. Sayyid Muhammad Shohib Mirbath bin
20. Sayyid Ali Khali Qasam bin
21. Sayyid Alwi bin
22. Sayyid Muhammad bin
23. Sayyid Alwi bin
24. Sayyid Ubaidillah bin
25. Imam al-Muhajir ilallah Ahmad bin
26. Sayyid Isa an-Naqib bin
27. Sayyid Muhammad an-Naqib bin
28. Sayyid Ali al-‘Uraidli bin
29. Imam Ja’far ash-Shadiq bin
30. Imam Muhammad al-Baqir bin
31. Imam Ali Zainal Abidin bin
32. Sayyidina Husain bin
33. Sayyidatina Fatimah az-Zahra binti
34. Rasulullah .[1]

Pendidikan
Keluarga Syekh Tubagus Ahmad Bakri adalah keluarga yang taat beragama, ayahnya merupakan salah satu ulama kharismatik sehingga pendidikan agama Syekh Tubagus Ahmad Bakri di usia dini diperoleh dari ayahnya. Adapun Ilmu-ilmu yang dipelajari oleh Syekh Tubagus Ahmad Bakri meliputi Ilmu Tauhid, Fiqih, Tasawuf, Nahwu, Sharaf, Hadits dan Tafsir.
Menurut salah seorang cucunya, setelah ilmu dasar agama dianggap cukup, Mama Sempur memutuskan untuk menimba ilmu ke pesantren yang ada di Jawa dan Madura. Sebelum berangkat, Syekh Tubagus Sayida berpesan kepada Ahmad Bakri agar jangan berangkat ke Banten apalagi menelusuri silsilahnya, ia baru diperbolehkan melakukan hal tersebut ketika masa studinya di pesantren selesai. Beberapa ulama yang pernah ia timba ilmunya adalah Sayyid Utsman bin Aqil bin Yahya - Betawi, Syekh Soleh Darat bin Umar - Semarang, Syekh Ma’sum bin Ali, Syekh Soleh - Cirebon, Syekh Syaubari, Syekh Ma’sum bin Salim - Semarang, Raden Haji Muhammad Roji Ghoyam - Tasikmalaya, Raden Haji Muhammad Mukhtar - Bogor, Syaikhona Kholil al-Bangkalani - Madura, bahkan di Syekh Kholil inilah dia mulai futuh (terbuka pemikirannya) terhadap ilmu pengetahuan agama Islam.
Pengembaraan di dunia intelektual tidak membuat Mama Sempur merasa puas. Untuk itu akhirnya dia memutuskan untuk berangkat menuntut ilmu ke Mekkah. Di sana ia belajar kepada Syekh Nawawi al-Bantani dan Ulama-ulama Nusantara lainnya. Setelah dianggap cukup dan berniat menyebarkan Agama Islam, ia kemudian pulang ke Purwakarta dan mendirikan pesantren di sana.

Guru-gurunya
Dalam kitab Idlah al-Karatoniyyah Fi Ma Yata’allaqu Bidlalati al-Wahhabiyyah (halaman. 27), Mama Sempur menyebutkan guru-gurunya sebagaimana berikut :
Sunda
Syekh Raden Haji Muhammad Roji Goyam - Tasikmalaya (talmidz: Syekh Umar asy-Syami dan Syekh Ahmad al-Khoyyath)
1. Syekh Ahmad Syathibi al-Qonturi - Gentur, Cianjur
2. Syekh Muhammad Bashri bin Abdillah (talmidz: Sayyid Utsman dan Syekh Raden Haji Muhammad Roji Goyam)
Jawa
1. Syekh Syaubari
2. Syekh Sholih bin Umar - Semarang
3. Syekh Ma'shum bin Salim - Semarang (mualif: Tasywiqul Kholan)
4. Syekh Ahmad Dahlan bin Abdillah (akhi: Syekh Muhammad Mahfudz at-Tarmasi)
Betawi
1. Tuan Syekh Habib Utsman
Mekkah
1. Syekh Nawawi Al-Bantani
2. Syekh Ahmad Zaini Dahlan
3. Syekh Sa'id Babshil
4. Syekh Umar bin Abi Bakar Bajunaidi
5. Sayyid Abdul Karim ad-Daghustani
6. Syekh Sholih Bafadhol al-Hadhromi
7. Syekh Sholih al-Kamal (mufti: al-Hanafi)
8. Syekh Ali Al-Kamal al-Hanafi
9. Syekh Jamal al-Maliki
10. Syekh Ali bin Husain al-Maliki
11. Sayyid Hamid (qodi: Jiddah) asal (mufti: al-Hanafi fil Makatil Musyarofah)
12. Syekh Ahmad Khotib asy-Syambasi
13. Syekh Sa'id al-Yamani
14. Syekh Muhammad Mahfudz at-Tarmasi
15. Syekh Mukhtar bin Athorid
16. Syekh Muhammad Marzuq al-Bantani.[2]

Mendirikan Pesantren
Pada tahun 1911 Masehi Syekh Tubagus Ahmad Bakri mendirikan Pesantren di daerah Sempur dengan nama Pesantren As-Salafiyyah. Di pesantren yang didirikannya inilah kemudian ia banyak menuangkan pemikirannya dalam berbagai kitab yang ditulis. Syekh Tubagus Ahmad Bakri mengabadikan hidupnya hanya untuk mengaji atau thalab ilmu, hingga thalab ilmu inilah yang menjadi jalannya untuk mendekatkan diri kepada Allah (tarekat).

Tarekat
Tarekat yang Syekh Sempur pegang adalah Tarekat Ngaji, sebagaimana ia ungkapkan dalam karyanya yang berjudul Futuhatut Taubah Fi Shidqi Tawajuhit Thoriqoh pada (halaman. 47-49):
"Ari anu pang afdhol-afdholna tarekat dina zaman ayeuna, jeung ari leuwih deukeut-deukeutna tarekat dina wushul ka Allah Ta`ala eta nyatea tholab ilmi, sarta bener jeung ikhlash".[3] (Tarekat yang paling utama pada zaman sekarang dan tarekat yang paling dekat dengan wushul kepada Allah yaitu thalab ilmi, benar, dan ikhlas)
Pernyataan Syekh Tubagus Ahmad Bakri tersebut dikutip dari jawaban seorang Mufti Syafiiyah Syekh Muhammad Sayyid Babashil yang mendapat pertanyaan seputar tarekat dari Syekh Ahmad Khatib. Dialog kedua Ulama tersebut dikutip oleh Mama Sempur dalam Kitab Idzharu Zughlil Kadzibin halaman 61.
Selain itu, dalam kitab Futuhatut Taubah Fi Shidqi Tawajuhit Thoriqoh (halaman 32) seraya mengutip pernyataannya Syekh Muhammad Amin asy-Syafi'i an-Naqsyabandi, Syekh Tubagus Ahmad Bakri menyatakan bahwa hukum masuk dalam salah satu tarekat mu'tabarah bagi setiap muslim laki-laki maupun perempuan yang sudah mukallaf adalah fardlu'ain. Sehingga menurut salah satu riwayat, Syekh Tubagus Ahmad Bakri pun tetap menganut tarekat mu'tabarah. Adapun tarekat yang dianutnya adalah Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah.
Sementara mengenai Tarekat Ngaji, K.H. Mu'tamad (salah satu murid Syekh Sempur, pengasuh Pondok Pesantren an-Nur Subang) Menuturkan:
Setiap pukul empat pagi, Mama Sempur sudah bersila dan berdzikir di dalam Masjid, mendirikan Salat Subuh berjamaah, wiridan dan kembali berzikir sampai waktu dhuha melaksanakan Salat Dhuha, dilanjutkan dengan mengajar ngaji santri sampai pukul 11.00 WIB. Usai mengajar ngaji santri, jadwal pengajian selanjutnya adalah mengajar ngaji para Kiai sekitar kampung yang dilanjutkan dengan Salat Zuhur berjamaah. Kemudian pulang ke rumah dan istirahat, namun ia tak pernah bisa istirahat sepenuhnya karena sudah ditunggu para tamu sampai waktu ashar. Selepas Salat Ashar Mama Sempur kembali mengaji bersama para santri hingga menjelang maghrib. Setelah Salat Maghrib ia istirahat sejenak dan Salat Isya, kemudian mengajar santri kembali hingga pukul 23.00 WIB. Bahkan menurut satu riwayat, kebiasaan Mama Sempur yang pernah diketahui oleh santrinya adalah dia tidak pernah batal wudu sejak Isya sampai Subuh dan tidak pernah terlihat makan.

Karya-karyanya
Syekh Tubagus Ahmad Bakri merupakan ulama yang cukup produkif dalam menulis kitab, dari tangannya telah lahir lebih dari 50 judul kitab yang berserakan di berbagai tempat. Sebagaimana umumnya UlamaNusantara, kitab-kitab karya Mama Sempur ini ditulis menggunakan aksara pegon. dari beberapa kitab ini ada yang saling terkait, dalam arti bahwa ada beberapa pemikiran Syekh Tubagus Ahmad Bakri yang terdapat di satu kitab namun terdapat juga di kitab lainnya.

Adapun kitab-kitab tersebut adalah sebagai berikut:

Cempaka Dilaga Mertelakeun Perihal Wajib Usaha
Kitab Cempaka Dilaga merupakan satu-satunya kitab yang judulnya menggunakan Bahasa Sunda, kitab ini membahas tentang bisnis dan etos kerja dalam pandangan Islam, proses penulisan kitab yang berjumlah 24 halaman ini dilakukan oleh Mama Sempur pada tanggal 8 Dzulhijjah 1378 Hijriyah atau 15 Juni 1959 Masehi.

Muslakul-Abror tarjamat nadzam `Iqdud-Dar
kitab yang mempunyai ketebalan 11 halaman ini merupakan terjemahan dari kitab "Iqdarud-Duror", terdiri dari enam pasal yang berisi kumpulan nadzaman berbahasa Sunda dan materi pembahasannya tentang tauhid, dalam kitab ini Mama Sempur tidak menyebutkan tempat dan waktu penulisan kitab.

Futuhatut-Taubah Fi Shidqi Tawajuhit-Thariqah
kitab ini menjelaskan tentang tasawuf yang dispesifikan dalam thariqah, dalam kitab yang mempunyai ketebalan 53 halaman ini membahas seputar dunia thariqah seperti syarat menjadi guru thariqah (mursyid), kewajiban menjalankan syariat, kecaman terhadap penganut thariqah yang meninggalkan syariat, dan lain sebagainya. Kitab ini selesai ditulis pada bulan Safar tahun 1358 Hijriyah atau April 1939 Masehi.

Fawaidul-Mubtadi
Menjelaskan tentang materi pengajaran yang wajib dajarkan oleh orang tua terhadap anak-anaknya, dalam kitab ini juga dibahas tentang faidah (kegunaan) dan tata cara mencari ilmu yang bermanfaat. Kitab yang tebalnya 49 halaman ini selesai ditulis pada hari Rabu tanggal 25 Ramadan 1371 Hijriyah atau 18 Juni 1952 Masehi.

Maslahatul-Islamiyyah Fi Ahkamit-Tauhiddiyyah
kitab yang terdri dari lima pasal ini menjelaskan tentang konsep tauhid yang ada dalam ajaran agama Islam. Kitab yang mempunyai ketebalan 36 halaman ini selesai ditulis pada tanggal 1 Muharram 1373 Hijriyah atau 10 September 1953 Masehi.

Ishlahul-Balid Fi Tarjamati Qaulil-Mufid
Kitab yang tebalnya 15 halaman ini merupakan kitab terjemah dari kitab "Qaulul-Mufid", materi pembahasan dalam kitab ini adalah seputar dunia tasawuf yang tetap mengedepankan syariat. Kitab ini selesai ditulis pada hari Ahad bulan Safar tahun 1372 Hijriyah atau Oktober 1953 Masehi.

Risalah al-Waladiyyah
Kitab ini merupakan kitab nadzaman karya Mama Sempur berupa terjemah dari kitab "al-Kharidah al-Bahiyyah" karangan "Syaikh Ahmad Dardir". Kitab yang membahas tentang tauhid ini mempunyai ketebalan 15 halaman dan selesai ditulis pada tanggal 3 Rabiul Awal 1357 Hijriyah atau 4 Mei 1938 Masehi.

Maslakul-Hal
Kitab ini menjelaskan tentang mu`amalah antar manusia seperti bekerja, walimah, akhlak dan sebagainya, kitab yang tebalnya 24 halaman ini mempunyai beberapa kesamaan dengan kitab "Cempaka Dilaga". Syekh Tubagus Ahmad Bakri dalam kitab yang terdiri dari tujuh pasal ini tidak mencantumkan tempat dan tanggal penulisan kitab.

Tanbihul-Ikhwan
Kitab ini merupakan kritik atas pemikiran "Jamaluddin al-Afghani", "Muhammad Abduh" dan "Rasyid Ridha" yang berpendapat bahwa pintu Ijtihad dibuka selebar-lebarnya, dalam kitab yang terdiri dari 8 pasal ini Syekh Tubagus Ahmad Bakri membahas tentang konsep ijtihad yang menurutnya tidak semudah yang dinyatakan oleh ketiga pemikir itu, selain itu juga tidak sembarangan dilakukan oleh seorang muslim karena ada syarat-syaratnya yang harus dipenuhi oleh seorang Mujtahid sepereti memahami ilmu nahwu, sharaf, bayan, badi`, paham semua ilmu syariat dan sebagainya. Bagi muslim yang belum memenuhi syarat-syarat ijtihad tersebut maka mereka diwajibkan untuk bertaqlid kepada ulama, dalam kitab yang berjumlah 32 halaman ini Mama Sempur tidak mencantumkan tanggal atau pun tahun penulisan kitab.

Roihatul-Wardiyah
Kitab ini membahas tentang adabul basyariyah, yaitu tata krama yang harus dilakukan oleh manusia khususnya Umat Islam dengan kebaikan hatinya, kebaikan pekerjaannya dan kebaikan perangainya, serta menjalani peraturan yang sudah ditentukan oleh Agama dan adat kebiasaan sebuah negeri, salah satu poin yang ada dalam kitab yang berjumlah 21 halaman ini dinyatakan bahwa jika perbuatan baik ini bisa dilakukan, maka akan menghasilkan kebaikan untuk dirinya sendiri serta dijauhkan dari segala kejahatan. Syekh Tubagus Ahmad Bakri berhasil menyelesaikan kitab yang terdiri dari 13 pasal ini pada tanggal 26 Ramadan 1347 Hijriyah atau tanggal 8 Maret 1929 Masehi.

Tanbihul-Muftarin
Judul lengkap kitab ini adalah Tanbihul-Ikhwan Fir-Roddi `Ala Mazhabid-Dlalalah wat-Tufyan, Kitab ini membahas tentang larangan untuk mencela kepada dua orang Sahabat Nabi yaitu Muawiyah dan Ali bin Abi Thalib karena kedua orang ini adalah orang mulia di sisi Rasulullah . Selain itu dalam kitab yang terdiri dari 8 pasal dan berjumlah 31 halaman ini juga dibahas tentang Akhlakul Karimah seperti anjuran untuk segera membayar hutang agar hutangnya tidak menggunung, memilih wanita shalihah untuk dijadikan sebagai istri, kefardhuan mencari ilmu yang manfaat (terlebih bagi keturunan Rasulullah dan lain sebagainya). Kitab ini selesai ditulis pada hari selasa tanggal 15 Ramadan 1349 Hijriyah atau 3 Februari 1931 Masehi.

Nashaihul-Awam fii tafqiqil-Islam
Kitab ini terdiri dari 19 pasal dan 34 halaman yang isinya merupakan ajaran-ajaran agama Islam yang dikutip oleh Syekh Tubagus Ahmad Bakri dari al-Qur'an, Hadits dan pendapat para Ulama, di antaranya adalah bahwa pokok ajaran Islam adalah saling menasihati dalam kebaikan, tujuannya adalah agar kelak umat Islam menjadi husnul, selain itu Mama Sempur juga menyampaikan tentang tidak layaknya membangun masjid di tempat yang populasinya tidak pernah melaksanakan salat, anjuran untuk segera bertaubat, dan seterusnya. Kitab ini selesai ditulis pada malam Jumat tanggal 21 Dzulhijjah 1352 Hijriyah atau 6 April 1934 Masehi.

Risalatul-Muslihat fi bayani fardlil-Maakulat wal-Masnunat wal-Makruhat wal-Muharromat
Sesuai dengan judulnya, kitab ini membahas hukum fiqih yang difokuskan kepada makan, sebagaimana layaknya fiqih yang mempunyai sifat relatif dan dinamis, Mama Sempur membahas tentang relatifitas hukum makan, yakni makan dalam keadaan Wajib, Sunah, Makruh, dan juga Haram. Kitab yang berjumlah 17 halaman ini diselesaikan pada hari Ahad tanggal 30 Jumadil Awal 1353 Hijriyah atau 9 September 1934 Masehi.

Tabshiratul-Ikhwan Fii Bayani Tasywiqil-Khallan
Kitab ini terdiri dari 7 pasal dan 82 halaman, pembahasan kitab ini seputar aqidah dan sufisme, di antara pelajaran yang disampaikan Syekh Tubagus Ahmad Bakri dalam kitab ini adalah ungkapan yang ia kutip dari Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam kitab "Fathur-Robbani" mengatakan bahwa perang ada dua macam, yaitu perang dzahir dan perang batin, Perang Dzahir adalah memberantas Kaum Kafir yang membenci Allah dan Rasul-Nya dengan mengangkat senjata pedang, panah dan lainnya. Sementara Perang Bathin adalah memerangi nafsu, syahwat dan tabiat buruk yang melenceng dari aturan agama, serta memerangi godaan setan. Dari kedua perang ini yang paling berat adalah perang batin.
Syekh Tubagus Ahmad Bakri menyelesaikan kitab ini pada hari Ahad tanggal 3 Ramadan 1352 Hijriyah atau 20 Desember 1933 Masehi.

Ihyaul-Mayit Fi Bayani Fadhli Ahli Bait
Kitab ini terdiri dari 8 pasal dan 37 halaman, sesuai dengan judulnya, kitab ini membahas tentang keutamaan keturunan Rasulullah , sehingga umat Islam semestinya memuliakan mereka, namun demikian jika ada keturunan Rasulullah yang melenceng dari ajaran agama Islam maka wajib untuk segera diluruskan karena tidak pantas jika ada Ahlul Bait yang akhlaknya tidak sesuai dengan Rasulullah . Kitab ini diselesaikan pada hari Rabu tanggal 11 Safar 1346 Hijriyah atau 14 Mei 1935 Masehi.

Saifudl-Dlarib
Kitab yang terdiri dari delapan pasal ini menjelaskan tentang tanda-tanda datangnya hari kiamat, baik itu kiamat Shugra maupun kiamat Kubra, kitab yang mempunyai ketebalan 30 halaman ini juga menceritakan tentang ramalan Syaikh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati tentang delapan tanda akan datangnya hari kiyamat, yaitu (1) cuaca atau musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa diprediksi, (2) banyaknya perpecahan antar manusia disertai meninggalkan syariat agama, (3) berusaha mengurangi kelahiran manusia dan banyak perselingkuhan, (4) menjual ilmu dengan dunia dan pegawai negara mudah disogok (gratifikasi), (5) dibuatkan gedung mewah untuk prostitusi dan perjuadian serta orang gila dijadikan tempat 'bertanya' sedangkan orang berilmu malah disingkirkan, (6) Meletusnya perang dunia antara Timur dan Barat Selatan, namun akhirnya tidak ada yang menjadi pemenang, (7) Masyarakat tidak taat hukum sehingga tatanan masyarakat menjadi kacau, dan (8) masyarakat meninggalkan ajaran agama dan hanya mengedepankan nafsunya saja. Kitab ini selesai ditulis pada hari Ahad Rabiul Tsani 1341 Hijriyah atau Desember 1922 Masehi.

Manhajul-Ibad Fi Bayani Daf`il-Fasad
Kitab yang terdiri dari 8 pasal dan 22 halaman ini membahas tentang faidah dan keutamaan-keutamaan yang harus dilakukan oleh umat Islam, di antaranya adalah faidah ziarah kubur kepada makam para Nabi, para Wali dan Orang Tua, menurut Syekh Tubagus Ahmad Bakri anjuran ziarah kubur sudah ada dalam al-Qur'an dan Hadits serta ulama 4 Madzhab. Seraya mengutip pendapat Syekh Sayyid Alwi, Mama Sempurmengungkapkan bahwa ziarah ke makam orang tua sangat dianjurkan bahkan hal itu diumpamakan seperti melaksanakan Ibadah Haji, selain itu Syekh Tubagus Ahmad Bakri pun membahas tentang larangan ta`ashub, yaitu sulit menerima kebenaran agama padahal sudah diberikan dalil-dalil tentang kebenaranna. Dalam kitab ini Mama Sempur tidak mencatat tanggal penulisan kitab.

Idlahul-Karatoniyah Fima Yata`allaqu bid-Dlalaltil-Wahabiyah
Sesuai dengan judulnya, kitab yang terdiri dari 8 pasal dengan tebal 47 halaman ini membahas tentang pemikiran-pemikiran Muhammad bin Abdul Wahhab dan aliran Wahabisme yang dianggap melenceng dari ajaran Islam, dalam kitab ini Syekh Tubagus Ahmad Bakri mengutip dari beberapa kitab yang mempunyai kecenderungan untuk menyatakan bahwa Wahabi telah melenceng dari ajaran Islam, di antara kitab-kitab yang dia kutip adalah "Durarus Saniyyah Fiir-Roddi 'alal-Wahabiyah" karya seorang Mufti Syafiiyah Syekh Ahmad bin Zaini Dahlan, Kitab "Showa`iqul-Muhriqot" karya Imam Ibnu Hajar al-Haitami dan lainnya, di antara pembahasan yang disoroti oleh Mama Sempur adalah tentang penguatan tradisi keagamaan Islam Ahlus Sunnah wal Jama'ah seperti dalil Ziarah Kubur, Tawasul, perintah mencari ilmu kepada ulama-ulama, serta tidak mencari ilmu melalui koran dan juga internet. Mama Sempur tidak meninggalkan catatan tanggal dan tahun pembuatan kitab ini.

Murid-muridnya
Beberapa santri Syekh Tubagus Ahmad Bakri yang menjadi 'Ulama terkemuka di antaranya sebagai berikut :
• Syekh Muhammad Dimyathi (Abuya Cidahu) - Cadasari, Pandeglang
• Syekh Sanja (Abuya Kadukaweng) - Kaduhejo, Pandeglang
• Syekh Ahmad Thabroni (Mama Rangdumulya) - Pedes, Karawang
• Syekh Ma’mun Nawawi (Mama Cibogo) - Cibarusah, Bekasi
• Syekh Muhammad Syafi’i (Mama Cijerah) - Bandung Kulon, Bandung
• Syekh Ahmad Syuja’i (Mama Cijengkol) - Plered, Purwakarta
• Syekh 'Izzuddin (Mama Cipulus) - Wanayasa, Purwakarta
• Syekh Abdullah - Plered, Purwakarta
• Syekh Ahmad Bushairi (Mama Sukamerta) - Rawamerta, Karawang
• Syekh Muhammad Thoha (Mama Sindangsari) - Paseh, Bandung.[4]

dll.

Wafat
Mama Sempur wafat pada Malam Senin, 27 Dzulqaidah 1395 H bertepatan dengan 1 Desember 1975 M

Referensi
1. ^ Tanbihul Muftarin edisi pertama, 3 Februari 1931 hal.22
2. ^ Idlah al-Karatoniyyah Fi Ma Yata’allaqu Bidlalati al-Wahhabiyyah edisi pertama, hal.27
3. ^ Futuhatut Taubah Fi Shidqi Tawajuhit Thoriqoh edisi pertama, April 1939 hal.47
4. ^ "KH Tubagus Ahmad Bakri (Mama Sempur)". matancirebon.org.



Sumber: wikipedia



Komentar
  • Belum Ada Komentar